APAKAH kabar soal rencana akuisisi mayoritas saham Bank Central Asia (BCA) oleh Danantara Indonesia benar adanya?
Anda mungkin bertanya-tanya, apakah pemerintah akan akhirnya menguasai salah satu bank swasta terbesar di Indonesia?
Klarifikasi Tegas dari Rosan Perkasa Roeslani
Letupan rumor soal maksud pengambilalihan 51 persen saham BCA oleh negara melalui Badan Pengelola Investasi (BPI Danantara) telah mengguncang pasar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, CEO Danantara dan Menteri Investasi, Rosan Perkasa Roeslani, menepis kabar tersebut secara singkat namun tegas di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (19 Agustus 2025).
“Enggak ada.,” kata Rosan ketika ditanya perihal pembicaraan awal terkait isu itu, ia memilih tidak berkomentar dan segera meninggalkan awak media .
Dugaan Jalinan Reformasi Keuangan: Skandal BLBI dan Isu Akuisisi
Rumor pengambilalihan ini melekat pada luka lama Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) pada era krisis moneter 1998.
Baca Juga:
Inisiatif Years of Culture Qatar Mengumumkan Negara Mitra Hingga Tahun 2030
WEPACK 2027 Kembali Digelar di Shanghai, Satukan Seluruh Rantai Industri Kemasan
DBS Group Raih Gelar Bank Teraman di Asia untuk ke-18 Tahun Berturut-turut
Skandal BLBI memicu kritik tajam, termasuk dari Ketua Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Keuangan Negara (LPEKN), Sasmito Hadinagoro.
Ia mendesak agar proses akuisisi BCA setelah bailout harus diinvestigasi, karena menurutnya negara “seharusnya mempertahankan minimal 51 persen saham tanpa biaya tambahan” .
Sasmito juga mengingatkan bahwa dana bailout berasal dari pajak rakyat, sehingga hasilnya semestinya menjadi modal negara.
Bukan diambil alih swasta, yang menurutnya merupakan “penjarahan kepemilikan masyarakat” .
Baca Juga:
Sungrow Hadirkan Solusi Microgrid Terintegrasi untuk Sektor Komersial dan Industri di Asia Tenggara
CGTN Luncurkan News Pal, Asisten Berita Berbasis AI
Debut Global All-New TIGGO7 dan TIGGOX7 di CHERY Brand Night, Usung Semangat “Together. For Family”
Respon Publik dan Dampaknya di Pasar Modal
Pasar menyambut isu ini dengan gelisah. Pada 15 Agustus 2025, saham BBCA turun sekitar 10 persen year-to-date (YTD), mencapai Rp 8.700 per saham.
Sementara itu, di hari klarifikasi (19 Agustus 2025), saham anjlok 2,30 persen ke Rp 8.500 dan kembali melemah 0,88 persen menjadi Rp 8.425, mencerminkan penurunan YTD mendekati 12,92 persen .
Tommy Kurniawan dari Fraksi PKB di Komisi IX DPR juga menyuarakan kehati-hatian.
Ia menekankan bahwa pernyataan provokatif justru dapat memperburuk iklim investasi dalam situasi ekonomi global yang tidak pasti .
Reputasi dan Stabilitas Perbankan
Sementara isu akuisisi ini belum terbukti, Danantara justru tengah memperluas jaringan globalnya.
Pada Juli 2025, Rosan mengumumkan bahwa Danantara akan menjalin kerja sama dengan sejumlah sovereign wealth funds internasional.
Baca Juga:
Blokees Pamerkan Lebih dari 900 Produk di China Toy Expo 2026, Terus Perkuat Daya Saing Produk
Side Akuisisi Studio “Games Art” Skala Kecil Roboto Entertainment guna Memperkuat Layanan Kreatif
Termasuk Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi dan Qatar Investment Authority (QIA), serta platform investasi ASEAN–Tiongkok dengan China Investment Corporation (CIC), dan Russian Direct Investment Fund (RDIF).
Inisiatif ini mencerminkan ambisi Danantara untuk memperkuat peran globalnya dalam investasi dan stabilitas ekonomi.****









