Saham Bank Mayapada Anjlok 50 Persen, Pasar Ragu Arah Bisnis Tahir

Manajemen bilang tak ada aksi korporasi, tapi investor menuntut lebih dari sekadar klarifikasi. Apa strategi masa depan MAYA di tengah tekanan industri dan digitalisasi?

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 30 Juli 2025 - 11:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Markas Mayapada yang megah tak mencerminkan harga sahamnya yang terus merosot. (Dok. bankmayapada.com)

Markas Mayapada yang megah tak mencerminkan harga sahamnya yang terus merosot. (Dok. bankmayapada.com)

DALAM satu tahun terakhir, harga saham PT Bank Mayapada Internasional Tbk. (kode saham: MAYA) melorot drastis dari Rp368 per lembar menjadi Rp184 pada perdagangan 29 Juli 2025—terjun lebih dari 50%.

Di tengah volatilitas yang mencolok ini, satu pertanyaan menggantung di udara: ke mana arah kapal bernama Mayapada ini dikemudikan?

Menanggapi permintaan klarifikasi dari Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui surat S-08606/BEI.PP2/07-2025, manajemen MAYA, melalui Corporate Secretary Jennifer Ann, memberikan pernyataan.

ADVERTISEMENT

pers rilis

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahwa tidak ada informasi atau aksi korporasi signifikan yang belum diungkapkan ke publik.

“Perseroan juga tidak memiliki rencana tindakan korporasi dalam tiga bulan ke depan,” tegasnya dalam keterbukaan informasi, Selasa (29/7/2025)..

Namun di balik pernyataan normatif itu, kegelisahan pasar tidak bisa ditepis begitu saja. Dalam dunia pasar modal, tidak adanya berita buruk bukan berarti semuanya baik-baik saja.

Saham MAYA, milik konglomerat Dato’ Sri Tahir—salah satu nama besar dalam daftar Forbes—terus menunjukkan tren penurunan dalam jangka menengah.

Koreksi Dalam Tanpa Penjelasan Nyata

Selama Juli 2025, saham MAYA hanya bergerak tipis dari Rp182 ke Rp184, meski sebelumnya sempat menyentuh level Rp188.

Tapi konteks lebih penting dari angka sesaat. Sejak Maret 2024, harga saham perusahaan ini telah kehilangan setengah nilainya.

Untuk sebuah bank yang terafiliasi dengan taipan dan berada dalam industri strategis, ini bukan penurunan biasa. Ini alarm.

Di sisi lain, manajemen menegaskan tidak mengetahui aktivitas signifikan dari pemegang saham utama atau rencana divestasi.

Artinya, dalam penglihatan internal, tidak ada guncangan berarti. Namun, pasar tidak bertransaksi berdasarkan pernyataan, melainkan persepsi dan prospek.

Apalagi, di tengah pemulihan ekonomi pasca-pandemi, sebagian besar saham bank justru mengalami reli.

Sebut saja saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) atau PT Bank Jago Tbk. (ARTO) yang mencatat pertumbuhan solid sejak 2024. Lalu, mengapa justru MAYA tertinggal?

Dato’ Sri Tahir: Figur, Bukan Jaminan

Nama besar Dato’ Sri Tahir sebagai pendiri dan pemilik utama Bank Mayapada tidak diragukan lagi. Ia adalah salah satu tokoh filantropis paling berpengaruh di Asia Tenggara.

Namun, pasar modal tidak mengukur sentimen dari kedermawanan. Yang dibutuhkan adalah transparansi strategis dan fundamental yang kuat.

Per 2025, Bank Mayapada masih mengandalkan model bisnis konvensional, dengan eksposur pada segmen pembiayaan menengah dan komersial.

Belum ada gebrakan besar di sektor digital banking atau diversifikasi pendanaan yang menjanjikan pertumbuhan eksponensial.

Bandingkan dengan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang menggandeng mitra teknologi dan agresif merambah ke UMKM berbasis digital.

Tanpa narasi pertumbuhan baru, MAYA seperti kapal yang melaju dengan mesin tua di perairan yang bergolak.

Risiko Investor dan Komunikasi yang Kosong

Saat saham jatuh 50% dalam waktu setahun, wajar jika investor bertanya: apa sebenarnya yang terjadi di balik layar?

Klarifikasi yang diberikan hanya menyatakan apa yang tidak terjadi—tidak ada aksi korporasi, tidak ada divestasi, tidak ada informasi material. Tapi apa yang terjadi?

Minimnya narasi strategis membuat saham MAYA kehilangan daya tariknya di lantai bursa. Apalagi dalam kondisi saat ini, ketika investor ritel makin kritis dan institusi makin selektif.

Pernyataan yang hanya defensif dan normatif bukanlah komunikasi investor yang sehat.

Jika Bank Mayapada ingin menjaga kepercayaan pasar, perlu disampaikan rencana yang lebih konkret: apakah ada strategi digitalisasi?

Apakah akan ada penguatan permodalan? Bagaimana manajemen menghadapi tantangan efisiensi dan NPL?

Perspektif Global: Ketika Bank-Bank Menari di Tengah Badai

Di tingkat global, sektor perbankan saat ini sedang mengalami transformasi masif. Bank-bank di Eropa seperti Deutsche Bank dan HSBC memangkas biaya dan mendigitalisasi layanan.

Di Tiongkok, bank-bank milik negara mempercepat transisi ke layanan mobile-first, sementara sektor fintech terus menggempur wilayah tradisional perbankan.

Di Indonesia, arah serupa sudah terlihat. OJK mendorong konsolidasi dan efisiensi, serta meningkatkan standar transparansi.

Artinya, perusahaan publik seperti MAYA tidak bisa lagi sekadar mengandalkan nama besar atau loyalitas investor lama. Yang diperlukan adalah value creation berbasis inovasi dan tata kelola.***

Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Infotelko.com dan Infoekonomi.com.

Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media 23jam.com dan Haiidn.com.

Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Hallotangsel.com dan Haisumatera.com.

Untuk mengikuti perkembangan berita nasional, bisinis dan internasional dalam bahasa Inggris, silahkan simak portal berita Indo24hours.com dan 01post.com.

Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.

Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com

Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.

Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.

Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.

Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center

Berita Terkait

Saham BCA Tertekan Isu Akuisisi, Danantara Fokus Ekspansi Global
Wolfram Australia Dibidik BUMI, Nilai Cadangan Emas Tembus Rp36 Triliun
SMMA Guyur Modal Anak Usaha Rp365,05 Miliar Demi Bisnis Lebih Kokoh
Di Balik Suspensi Saham FUTR, Ada Rencana Ekspansi Energi yang Tersembunyi
RAAM Jawab Isu Volatilitas Saham, Investor Diminta Pantau Strategi Jangka Panjang
Saham DATA Bergerak: Pembelian Besar Komisaris Jadi Katalis Industri Telekomunikasi
Saham ROCK Melejit 141 Persen, Investor Lirik Potensi Revaluasi Aset Properti
SIDO Muncul Ekspansi ke Asia Tenggara, Meski Keluar dari Indeks LQ45

Berita Terkait

Kamis, 21 Agustus 2025 - 08:36 WIB

Saham BCA Tertekan Isu Akuisisi, Danantara Fokus Ekspansi Global

Rabu, 20 Agustus 2025 - 15:17 WIB

Wolfram Australia Dibidik BUMI, Nilai Cadangan Emas Tembus Rp36 Triliun

Senin, 18 Agustus 2025 - 11:49 WIB

SMMA Guyur Modal Anak Usaha Rp365,05 Miliar Demi Bisnis Lebih Kokoh

Kamis, 14 Agustus 2025 - 11:41 WIB

Di Balik Suspensi Saham FUTR, Ada Rencana Ekspansi Energi yang Tersembunyi

Rabu, 13 Agustus 2025 - 13:57 WIB

RAAM Jawab Isu Volatilitas Saham, Investor Diminta Pantau Strategi Jangka Panjang

Berita Terbaru