AirAsia mengumumkan strategi agresif menjadikan Jakarta sebagai hub utama untuk rute internasional lintas benua ke Asia Utara, Australia, dan Timur Tengah.
Maskapai memesan 50 Airbus A321XLR senilai US$12,25 miliar untuk memperkuat armada jarak jauh berbasis low-cost, mendukung konektivitas ASEAN+.
Fokus pada kota strategis seperti Bali, Lombok, Labuan Bajo untuk menarik wisatawan premium, sambil memanfaatkan pemulihan ekonomi dan pariwisata Indonesia pascapandemi.
AIR ASIA Group menegaskan komitmennya untuk memperluas jaringan penerbangan internasional dari dan ke Indonesia, dengan Jakarta sebagai pusat utama strategi ekspansi yang agresif.
CEO Capital A, induk AirAsia, Tony Fernandes, dalam media briefing virtual yang diikuti wartawan dari Jakarta pada Jumat (4 Juli 2025) malam WIB, menyatakan bahwa kondisi pasar Indonesia saat ini memberi peluang ideal untuk pertumbuhan.
“Dengan merek dan jaringan kami, kami yakin bisa membangun rute menarik dari Asia Utara, Australia, dan Timur Tengah ke Indonesia,” kata Fernandes seperti dikutip dari Capital A.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menambahkan bahwa strategi ini didukung oleh kekuatan fundamental pasar Indonesia sebagai ekonomi terbesar Asia Tenggara dengan populasi besar, daya beli yang meningkat, serta kebutuhan konektivitas lintas negara yang terus bertumbuh.
“Indonesia adalah wilayah dengan bentangan luas hingga empat sampai lima jam penerbangan. Ini peluang luar biasa,” imbuhnya.
AirAsia tidak berencana untuk masuk ke pasar penerbangan domestik Indonesia secara signifikan karena menurut Fernandes, pasar domestik sudah dilayani dengan baik oleh maskapai lokal.
Baca Juga:
PWI Pusat Aksi Donasi Kemanusiaan untuk Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh
Kolaborasi PR Newswire dan PSPI Hadirkan Akses Publikasi ke Ribuan Media Global dan 175 Media Lokal
Dari Pena ke Portal: 24jamnews.com Dukung Hidupkan 1.250 Media Lokal di Indonesia
“Kami tidak akan menjadi maskapai domestik karena itu tidak pernah menjadi rencana kami,” jelasnya.
Investasi Pesawat Jarak Jauh Sebagai Kunci Pertumbuhan Konektivitas ASEAN
Optimisme AirAsia terhadap pasar Indonesia tidak hanya berbasis pada strategi hub lokal, tetapi juga pada investasi armada untuk rute jarak jauh.
Capital A telah menandatangani perjanjian pembelian 50 pesawat Airbus A321XLR dengan opsi tambahan 20 unit, senilai total US$12,25 miliar atau sekitar Rp198,35 triliun.
Pesawat A321XLR dirancang untuk rute jarak menengah hingga jauh, memungkinkan maskapai melayani penerbangan lintas benua yang sebelumnya tidak ekonomis bagi maskapai berbiaya rendah.
Baca Juga:
Ribuan Pena di Satu Layar: 24jamnews.com Bangun Jurnalisme Lokal Mandiri
Danantara Himpun Rp50 Triliun Dari Patriot Bond untuk 33 Proyek Energi Bersih
LPS Ikuti Langkah BI, Pangkas Tingkat Bunga Penjaminan Hingga 3,75 Persen
“Investasi ini tentang membuka konektivitas lintas benua di luar ASEAN dan semakin memasyarakatkan terbang bagi siapa saja,” jelas Fernandes dalam wawancara dengan Reuters.
Dengan konfigurasi kursi efisien dan jarak terbang hingga 8.700 km, armada baru ini memungkinkan AirAsia mengoperasikan penerbangan nonstop ke Timur Tengah, Tiongkok bagian utara, bahkan bagian selatan Australia dengan biaya yang kompetitif.
Investor memandang strategi ini sejalan dengan tren global di mana maskapai low-cost long-haul semakin diminati, terutama di kawasan Asia-Pasifik yang memiliki populasi besar namun harga sensitif.
“Strategi AirAsia memanfaatkan keunggulan biaya rendah untuk menembus rute jarak jauh dari Jakarta cukup menjanjikan, selama faktor biaya bahan bakar dan tingkat okupansi dikelola secara ketat,” ujar analis penerbangan dari CAPA Centre for Aviation dalam laporan terbarunya (CAPA).
Strategi Hub Jakarta untuk Tarik Lalu Lintas Asia Utara dan Australia
Langkah AirAsia untuk menjadikan Jakarta sebagai salah satu hub strategis mengindikasikan pendekatan hub-and-spoke yang lebih terintegrasi dengan rencana lintas benua.
Jakarta dipilih karena posisinya yang sentral, potensi permintaan internasional yang besar, serta dukungan infrastruktur bandara yang semakin modern.
Baca Juga:
Sidang Korporasi ASABRI Dimulai: Skandal Investasi Triliunan Terungkap Lagi
Saham BCA Tertekan Isu Akuisisi, Danantara Fokus Ekspansi Global
Wolfram Australia Dibidik BUMI, Nilai Cadangan Emas Tembus Rp36 Triliun
Selain Jakarta, Fernandes menyebut kota-kota lain seperti Bali, Lombok, Pontianak, Balikpapan, Belitung, dan Labuan Bajo sebagai titik-titik potensial dalam strategi pertumbuhan.
Rute-rute internasional menuju destinasi ini sempat terhenti akibat pandemi, namun kini telah kembali dibuka.
“Kami bergegas membuka kembali semua rute internasional yang sempat ditutup, termasuk Pontianak, Balikpapan, dan Labuan Bajo. Belitung akan segera menyusul,” jelas Fernandes dalam pernyataan resminya di situs AirAsia Newsroom.
Ia juga menekankan potensi Labuan Bajo, salah satu destinasi pariwisata premium Indonesia Timur, sebagai pasar yang bisa menarik wisatawan internasional bernilai tinggi.
“Kami sangat gembira dengan rute Labuan Bajo, sementara Lombok sudah lama kami yakini potensial,” tambahnya.
Prospek Ekonomi Makro Indonesia Mendukung Pertumbuhan Sektor Penerbangan Internasional
Dari sisi ekonomi makro, Indonesia diproyeksikan tumbuh di kisaran 5,1% pada 2025 dengan inflasi yang relatif terjaga dan daya beli masyarakat kelas menengah yang meningkat, menurut proyeksi Bank Indonesia.
Sektor pariwisata juga kembali pulih mendekati tingkat prapandemi, didorong oleh promosi destinasi premium seperti Bali, Labuan Bajo, dan Mandalika.
Data Kementerian Pariwisata menunjukkan target 17 juta wisatawan mancanegara pada 2025, naik dari sekitar 11 juta pada 2024.
Kombinasi faktor-faktor ini menjadikan pasar Indonesia semakin menarik bagi investor dan operator penerbangan internasional.
Namun, risiko tetap ada, terutama terkait fluktuasi harga bahan bakar avtur, volatilitas nilai tukar rupiah, serta persaingan dengan maskapai regional seperti Scoot, Batik Air, dan Citilink.
AirAsia tampaknya memahami tantangan tersebut dan memilih fokus pada pasar lintas benua bernilai tambah daripada hanya bersaing di pasar domestik yang sudah jenuh.
“Kami percaya waktu yang tepat untuk Indonesia adalah sekarang,” pungkas Fernandes.***












