FILM tawarkan 989 juta saham dengan harga pelaksanaan Rp800 dan target dana Rp791,8 miliar.
Sebagian besar dana right issue akan digunakan untuk melunasi utang ke Bank Mandiri.
Masuknya SBS Korea dinilai sebagai strategi memperkuat kolaborasi produksi konten lintas negara.
PT MD Entertainment Tbk (IDX: FILM), perusahaan hiburan terkemuka di Indonesia, resmi mengumumkan rencana aksi korporasi.
Berupa penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) I atau rights issue, dengan tujuan utama memperkuat struktur permodalan dan melunasi kewajiban finansial strategis.
Berdasarkan prospektus yang dipublikasikan di situs resmi Bursa Efek Indonesia, manajemen FILM menyampaikan bahwa sebanyak 989.778.796 saham baru akan ditawarkan kepada publik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Masing-masing dengan nilai nominal Rp100 dan harga pelaksanaan Rp800 per saham, setara dengan 9,09% dari modal disetor penuh setelah pelaksanaan aksi korporasi ini (BEI).
“Right issue ini akan memberikan fleksibilitas tambahan kepada Perseroan untuk memperkuat neraca keuangan dan mengurangi beban bunga,” ujar manajemen FILM dalam keterangannya, Jumat (28/6/2025), melalui situs resmi MD Entertainment.
Pemegang saham yang tercatat pada Daftar Pemegang Saham (DPS) per 8 Juli 2025 pukul 16.00 WIB berhak atas hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) dalam rasio 10:1, di mana setiap 10 saham lama memberikan 1 HMETD yang dapat digunakan untuk membeli 1 saham baru.
Baca Juga:
PWI Pusat Aksi Donasi Kemanusiaan untuk Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh
Kolaborasi PR Newswire dan PSPI Hadirkan Akses Publikasi ke Ribuan Media Global dan 175 Media Lokal
Dari Pena ke Portal: 24jamnews.com Dukung Hidupkan 1.250 Media Lokal di Indonesia
Keterlibatan SBS Korea Perkuat Akses Pasar dan Sinergi Regional
Yang menarik perhatian investor adalah kehadiran investor strategis baru dalam aksi ini, yakni SBS Co., Ltd., salah satu perusahaan media terbesar asal Korea Selatan, yang akan mengambil alih sebagian HMETD dari PT MD Corp Enterprises, entitas utama pengendali saham FILM.
Langkah ini menandai masuknya investasi asing ke dalam sektor media dan hiburan Indonesia, dengan harapan memperluas sinergi regional dan distribusi konten lintas negara, khususnya antara Indonesia dan Korea Selatan yang industri hiburannya berkembang pesat.
“Dengan menggandeng SBS Co., Ltd., FILM berharap dapat memperluas kerja sama produksi dan distribusi lintas kawasan, serta meningkatkan daya saing konten lokal,” tulis manajemen dalam dokumen prospektus yang dirilis ke publik (OJK).
Kehadiran SBS bukan sekadar pembelian saham, namun diduga merupakan bagian dari strategi sinergi konten dan ekspansi bisnis digital yang akan memperluas jangkauan regional MD Entertainment di pasar Asia Timur dan Asia Tenggara.
Baca Juga:
Ribuan Pena di Satu Layar: 24jamnews.com Bangun Jurnalisme Lokal Mandiri
Danantara Himpun Rp50 Triliun Dari Patriot Bond untuk 33 Proyek Energi Bersih
LPS Ikuti Langkah BI, Pangkas Tingkat Bunga Penjaminan Hingga 3,75 Persen
Aksi ini mencerminkan kepercayaan investor asing terhadap potensi pertumbuhan industri konten di Indonesia dan ketahanan model bisnis FILM dalam menghadapi tekanan digitalisasi global.
Dana Hasil Right Issue Difokuskan Lunasi Utang Bank Mandiri
Dari hasil PMHMETD I ini, FILM menargetkan perolehan dana bruto sebesar Rp791.823.036.800, yang setelah dikurangi biaya-biaya emisi akan digunakan mayoritas untuk pelunasan utang jangka panjang kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (IDX: BMRI), senilai Rp748,2 miliar.
Strategi ini dinilai sebagai langkah konservatif namun tepat, mengingat kondisi suku bunga global yang masih tinggi dan volatilitas nilai tukar yang mempengaruhi beban bunga korporasi.
“Dengan pelunasan pinjaman ini, kami ingin mengurangi risiko keuangan serta meningkatkan fleksibilitas dalam ekspansi konten dan digital ke depan,” ujar manajemen FILM dalam keterangannya kepada OJK.
Sisa dana setelah pelunasan utang akan digunakan untuk mendukung kegiatan operasional dan pengembangan proyek-proyek film dan serial yang akan dirilis pada kuartal IV 2025 dan sepanjang 2026.
HMETD akan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tujuh hari kerja, mulai dari tanggal 10 Juli hingga 18 Juli 2025, dan setelah tanggal tersebut hak tidak digunakan akan kedaluwarsa.
Baca Juga:
Sidang Korporasi ASABRI Dimulai: Skandal Investasi Triliunan Terungkap Lagi
Saham BCA Tertekan Isu Akuisisi, Danantara Fokus Ekspansi Global
Wolfram Australia Dibidik BUMI, Nilai Cadangan Emas Tembus Rp36 Triliun
Investor Optimistis terhadap Valuasi, Kinerja Fundamental, dan Sinergi Digital FILM
Aksi korporasi ini mendapat perhatian positif dari investor ritel dan institusi, mengingat harga pelaksanaan right issue berada di bawah harga pasar saat ini dan struktur pembiayaan yang efisien setelah aksi korporasi ini dilakukan.
Dengan adanya pengurangan utang yang signifikan, rasio debt to equity (DER) FILM diperkirakan akan membaik, menciptakan ruang pertumbuhan laba lebih sehat di tengah gencarnya ekspansi digital dan proyek serial global.
Selain itu, kemitraan strategis dengan SBS Korea Selatan diprediksi akan memperluas pangsa pasar konten produksi MD Entertainment melalui kanal OTT internasional dan siaran televisi berbayar di luar negeri.
Pelaku pasar memperkirakan bahwa langkah ini bukan sekadar aksi korporasi finansial, tetapi bagian dari roadmap strategis jangka panjang untuk menjadikan FILM sebagai rumah produksi digital yang berorientasi global.***










